Tampilkan postingan dengan label Amaliah Ahlusunnah Wal Jamaah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amaliah Ahlusunnah Wal Jamaah. Tampilkan semua postingan

Memahami Perkataan Imam Syafi’i Dalam Pembagian Bid’ah

Menurut Imam Syafi’i tentang pemahaman bid’ah ada dua riwayat yang menjelaskannya.
Pertama, riwayat Abu Nu’aim;

اَلبِدْعَة ُبِدْعَتَانِ , بِدْعَة ٌمَحْمُودَةٌ وَبِدْعَةِ مَذْمُوْمَةٌ فِيْمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومْ.

Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela’.

Kedua, riwayat Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi’i :

. اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ, مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مْن ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٌ

‘Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah bid’ah dholalah/ sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’

Keutamaan Berdzikir

Keutamaan Berdzikir.
محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس
Wahai sahabatku, hendaknya anda senantiasa mewiridkan Dzikir (mengingat) kepada Allah Ta’ala dengan menentukan waktunya dan membatasi bilangannya, dan untuk memastikan bilangan dzikirnya, dan mengistiqomahkannya, boleh anda mempergunakan tasbih (alat) sebagai alat penghitung.
Ketahuilah! Bahwa dzikir itu merupakan rukun thariqat, kunci hakikat, pedang para murid (pencari kebahagian akhirat), dan merupakan sumber derajat kewalian, demikian dikatakan oleh sebagian Ulama Ma’rifat.
Masalah dzikir ini, difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam beberapa ayat Al Qur’an dan Hadits, yaitu :
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al Baqarah (2) : 152)